Rss Feed
Tampilkan postingan dengan label Cuaph. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cuaph. Tampilkan semua postingan

Sebuah Harap




Rasa sakit ini akan segera pergi
rasa sakit ini akan segera tertepis
rasa sakit ini akan segera terganti

ingin akan menjadi "jadi"
mimpi bukan lagi abstraksi
cita tak lagi sebuah ilusi

segala kenangan buruk akan terbang melangit
masa kelam akan tersiram cahaya mentari
rasa sendu akan terseduh dalam secangkir semangat pagi
hari - hari suram kan berganti damai

yang runtuh kan terbangun tinggi
pena kan menari di atas selembar kertas putih
puzzle kan tersusun rapi

"kata" tak lagi sendiri
ia kan berbaris hingga tepi
bersama yang lain melangkah pasti
demi sebuah masa depan yang manis


#semangat pagi
percaya akan takdir


Yogyakarta, 26 Juni 2015
Nadine Husein
Bisik



aku mendengar suara berbisik
di tengah keramaian yang mengusik
membangun sebuah bait
tak panjang namun menyentuh hati

ia berbisik
 lirih
lirih
hampir tak sanggup menyisik
tapi aku mengerti

ia ingin aku pergi
bukan menyusuri pantai
bukan bermain air
bukan melamun sepi

ia ingin sampai
pada hati
pada kemurnian diri

bukan pada dunia yang mengikat
bukan pada hakikat hidup sempit

dan ternyata
Quranku lah yang berbisik

Sapaan Sunyi


Hai sunyi
Kita sering sekali bersua
Kala lenggang maupun ramai
Agaknya ada segaris benang merah di antara kita

Belakangan ini kau tak henti menghalau hatiku
Langkah besar apa yang telah kau ambil, wahai sunyi?
Rasa ingin tahu mengusikku
Apa yang kau perbuat dengan jiwa ini?

Dirimu tak lagi memberi arti bagiku
Aku tak menemukan makna baru
Tak merengkuh jiwa baru
Tak memeluk kebebasan baru
Tak merefresh mimpi lalu 
Dan tak menyentuh semangat hidup
Sepertinya hari-hariku semakin muram dengan hadirmu

Apa yang salah wahai sunyi?
Apa yang membuat kebersamaan kita jadi berbeda?
Kaulah angin yang selalu mengitari kemanapun aku pergi
Kehadiranmu mengusir kesendirianku

Kau membuatku kuat
Kau menuntunku pada pijakanku
Kau membuatku menemukan mimpiku
Namun kau tidaklah seperti dahulu
Ataukah aku yang telah berubah?

Wahai Sunyi
Ceritakan padaku agar aku memahami
Sebanyak apa spektrum bias warna yang telah berpendar di bumi
Seindah apa bunyi gemiricik air dari air yang mengalir
Sekemilau apa embun yang menetes dr daun satu ke daun yang lain
Sejumlah apa gelak tawa yang menghangatkan hati
Selincah apa tarian rindu yang berterbangan di langit

Berkisahlah denganku
Hingga aku hidup
Agar aku benar-benar hidup
Dan tak ada lagi batas antara kau dan aku

Namun kau tetap membisu
Bagaikan ruang hampa udara
Kau menciptakan sunyi dalam nuansa kesunyianmu
Aku tak menemukan apapun
Dan kau tak bercerita apapun

Lama skali aku berpikir dalam kesunyianmu
Lalu tiba - tiba aku terhenyak
Tubuhku kaku mematung
Pandanganku hampa
Tak hanya itu
Seluruh tubuh dan jiwaku kosong terasa

Perlahan, Aku sadari sesuatu
Ternyata aku telah menjelma menjadi dirimu!!!
Sunyi yang tercipta dalam kesunyianmu adalah aku !!!

By, Nadine Husein
Tebuireng

08052014

Bersama Gerimis

Aku menunggumu.
Di persimpangan jalan itu
Menunggu janjimu
Menanti senyummu

Namun hanya angin yang setia menemaniku
Hingga senja pun mulai mnghilang
Kau tak pernah muncul

Aku masih di sini
Berharap angin akan menyampaikan gundahku
Berharap angin akan membisikkan salam darimu
Namun yang ada hanya hening

Kau dimana
Aku mulai merintih pada angin
Jarum detik,menit dan jam berkejar-kejaran
Hingga jarum paling pendek berhenti di angka sembilan

Aku mulai menangis
Sedu sedan
Gundah gulana
Benar - benar tangis

Ini aku
Aku yang pernah menyakitimu
Gadis yang pernah menyia-nyiakanmu
Peri hati yang meninggalkanmu
Namun rasa sayangmu masih ada untukku

Maaf jika Aku tak tahu diri
Kumohon datanglah
Hanya sekali ini 
Untuk terakhir kalinya

Rintik gerimis masih menemaniku.
Dan waktu pun tetap berlalu.

11032013
Tebuireng_ Nadine Husein


About You



Kamu
Dan sayap – sayap kupu – kupu mulai rapuh
Bilakah ia terbang melambung
Ataukah ia kan terjatuh
Ini bukanlah sebuah dongeng
Bukan pula sekedar daun yang gugur di atas tumpukan jerami
Tak sama dengan rengekan anak cengeng
Tapi murni dari rintihan hati
Kau dan duniamu
Kau dan pikiranmu
Kau dan hatimu
Kamu, kamu dan kamu
Tanpa ada warna pelangi
Suara gemiricik air
Hangat mentari pagi
Apalagi sekedar isak tangisku dalam perih
Semua terbungkus rapi dalam egomu
Dipagari paradigmamu
Terlapisi idealismu
Hanya ada kamu
Dan semua di sekitarmu menghilang dalam kabut putih
Tanpa pernah mengerti
Tanpa pernah peduli
Karena bagimu
Hanya ada kamu                                                                            

 Tebuireng, 23-10-2012
Nadine Husein

Tak Kurang dan Tak Lebih



Cukup
Jangan manjakan aku
Jangan marahi aku
          Cukup peringatkan aku dengan sabar
          Cukup ajaklah aku dengan perhatian
Karna aku tak suka kekerasan
Karna aku tak terbiasa dengan kekasaran
Karna aku tak nyaman dengan makian
Karna aku tak bisa sadar dengan sindiran
          Cukup apa adanya tentang diriku
          Tentang Hatiku
          Tentang jiwaku
Karna aku hanyalah seorang yang sederhana
Karna yang terbesit adalah pikiran sederhana
Karna yang tersirat perasaan sederhana
          Maka cukuplah sederhana kau membaikkan diriku.
          

                                                             Tebuireng, 19 Mei 2012
                                                                      Nadine Husein

Dalam Hening



Tapi

Tak ada  hati
Hanya aku sendiri
Di sudut yang sepi

Mamatri diri
Mematut cermin
Mencari arti

 Tapi...
Yang aku temukan pada akhir..

Hanya ada kata  "Tapi"
Menjerat esensi
Membuka tirai jati diri
Mengklaim eksistensi

Namun  "tapi" tak kunjung pergi
Ia memagari
Menjadi kekalutan yang solid
Meretaskan diri menjadi buih

Dan ia tetaplah  "tapi"
Terus saja melayang dalam kepala ini
Pusing?
Pening?
Itu bukanlah garis tepi
Ia takkan berhenti 
hingga kesadaran tak ingin kembali


By
Nadine Husein
28042014