Rss Feed
Tampilkan postingan dengan label Ngaji. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ngaji. Tampilkan semua postingan

83 tahun dalam 1 malam

"Lailatul Qadr khoirum min alfi syahr" Suatu malam yang nilainya jauh lebih baik dari 1000 bulan yang jika dikalkulasikan sekitar 83 tahun. Singkat saja karena topik ini terlalu sering dibahas. Saya ingin mengulas tentang Apa perbedaan antara lailatul Qadr dengan malam nuzulul Quran? Dua malam ini terjadi dalam satu bulan yakni bulan ramadan. Al Quran atau kalamullah turun di lauhil mahfudz pada lailatul qadr. malam itu adalah malam yang diberkahi dimana para malaikat turun ke bumi. "Tanazzalul malaaikatu war ruuhu fiiha". Sedangkan malam nuzul Quran adalah malam turunnya AlQuran pada nabi Muhammad melalui perantaraan malaikat Jibril. Malam ini terjadi pada tanggal 17 Ramadhan. Mengenai waktu terjadinya lailatul qadr diyakini pada 10 malam terakhir bulan Ramadhan dan menurut para ulama terdahulu lebih sering terjadi pada malam 25 Ramadhan. Adapun ciri - cirinya (masih menurut para ulama) : pertama, matahari terbit tidak menyengat. Hanyalah cahaya terang yang tampak. Dua, siangnya tak ada angin maupun mendung. Panas matahari tak terlalu menyengat suasana sejuk. Tiga, malamnya, hawa dingin membuat bulu kuduk meremang (merinding). Jika diberkahi hati terasa ingin menangis. Ƨεмợ̇ƍå mendapat kesempatan menjumpai dan mendapat rahmatNYA. Amiin. Disampaikan Kyai Sugeng Utomo dalam penutupan pengajian Ramadhan 7 Juli 2015. Ponpes Daarul Ulum wal Hikam.

Ainun Qolby


Al Hikam ( Ibnu Athoilah )

ثم قال ( الحق ) تعالى ( ليس بمحجوب ) أي ليس حجاب وصفاله سبحاله ( وإنما المحجوب ) أي متصف بالحجاب ( أنت ) بصفاتك النفسانية ( عن النظرائية ) فان اردت الوصول إليه والدخول في حضرته فابحث عن عيوب نفسك وعالجها تصل إليه وتشاهده ببصيرتك ثم استدلّ على نفي الحجاب عن الرب.
        
Allah Ta’ala, dzat yang tetap sifat kesempurnaannya.  Ketika Allah memiliki sifat Ar Rahman, Ar Rahiim, al Hakiim dll ( dalam Asmaul Husna ), sifat tersebut tidak akan berubah. Berbeda dengan manusia ( makhluk ) seiring berjalannya waktu sifat yang dimiliki manusia bisa berubah. Seseorang yang kurus bisa berubah menjadi gendut.  Begitupun sifat seseorang yang asalnya kalem, halus tutur kata bisa saja berubah dalam hitungan detik sebab dipukul misalnya.
            Tak ada yang menutup sifat Allah. Sementara sifat manusia bisa tertutup oleh nafsu. Tetapi ainun qolbi  ( mata hati ) jika diberi kesempatan oleh Allah untuk melihat yang lain ( makrifat ). Setiap mata hati hakikatnya bisa melihat orang lain namun sebagian besar hati manusia tertutup oleh nafsu.
            Dikisahkan ada seorang kyai yang bisa mengetahui apa yang akan terjadi pada orang lain dan memang benar – benar terjadi. Sampai suatu ketika kyai ini bermimpi disuruh uzlah berguru pada waliyullah di negeri seberang. Maka berangkatlah sang kyai dan bertemu dengan waliyullah. Ketika berhadapan langsung kyai tersebut melihat tulisan An Naar ( neraka ) di dahi waliyullah. Sang Kyai tertegun, bagaimana bisa waliyullah tertulis neraka di dahinya.
            Selidik punya selidik setiap waliyullah sering keluar berjalan – berjalan. Maka kyai pun mengikutinya dan didapati waliyullah masuk ke warung yang sangat ramai. Waliyullah bukan tak  mengetahui ia dibuntuti bahkan waliyullah memanggil dan mengajak Kyai makan bersama. Setelah itu Waliyullah berjalan kembali tak urung Sang Kyai kembali membuntutinya hingga sampailah pada sebuah sungai. Disitulah kemudian Waliyullah bukannya berenang tapi berjalan di atas sungai.
            Selanjutnya Waliyullah memanggil sang kyai mendekat. Kyai pun berenang mendekati waliyullah. Waliyullah pun berujar, “ Apapun yang kau lihat belum tentu benar, maka lihatlah dan mintalah petunjuk kepada Allah “. Jika engkau dikaruniai ngerti  oleh Allah maka kamu tidak diperbolehkan untuk menyampaikan apa yang dilihat. Tapi diharuskan melihat dengan nur Allah tetaplah untuk meminta petunjuk Allah. Karena ilmu Allah tidak ada penutup sedangkan ilmu manusia bisa tertutup nafsu.
            Meskipun kamu pergi ke seberang lautan untuk uzlah di tempat yang jauh jika hatimu tidak ditata maka takkan bisa tercapai maksudmu. Nafsu adalah keinginan – keinginanmu yang tidak sesuai. Semakin tebal keinginanmu tersebut semakin tebal penghalangmu dengan Allah. Jika hatimu ingin wushul (sampai) kepada Allah maka kamu harus mencari ampun pada Allah atas segala kesalahan. Mengingat – ingat apa yang menjadi kesalahan dan kecacatan pada dirinya dalam upaya menjaga nafsu.
            Beristigfar setiap terasa ada sifat sombong, iri. Juga memohon ampun karena telah menyia – nyiakan waktu. Bahkan ikan – ikan pun membaca istighfar. Menangislah karena Allah yang menjadi jalan untuk segala permasalahanmu. Ketika kamu bisa wushul maka itu akan menjadi jalan menjadi kekasih Allah. Dan dari situlah kamu dapat mlihat dengan mata hati.
            Alkisah Kyai tadi tidak mau memberi tahu apa – apa yang dilihatnya lagi. Tampaknya Kyai tak ingin lagi tertipu oleh nafsu. Ketika ditanya oleh seseorang tentang keberatan kyai menyampaikan lagi apa yang diketahuinya kini, Kyai menjawab, “aku takut pada Allah, karena apa yang belum terjadi adalah hak Allah. Bukan hakmu ataupun hakku. Apa yang menjadi hakmu adalah apa yang terjadi sekarang, maka kamu tidak boleh mengetahui apa yang belum terjadi karena itu adalah hak Allah. Maka kamu harus bisa menemukan hatimu kepada Allah. Menempatkan dirimu di hadapan Allah melalui penglihatan hatimu.”
                 
Yogyakarta, 26082014
Pondok Pesantren Darul Ulum wal Hikam (DAWAM)
Pengajian dibawah asuhan Kyai Sugeng Utomo


NB : apabila terdapat kesalahan dan kekurangan semata - mata berasal dari Penulis

Santri Kudu Duwe Pulpen

Ta’limul Muta’alim ( Syaikh Az-Zarnuji)
وأنشدت للشيخ أبي الفتح البستي رحمه الله تعالى
 ذو العقل لايسلم من جاهل # يسومه ظلما واعناتا
 فليختر السلم على حربه # وليلزم الانصات ان صاتا
      Disebutkan dalam Syiir Syekh Umaed Abil Fathi, “Orang yang sempurna akalnya lumrahnya tidak selamat dari kedzoliman orang – orang bodoh maka ketika kamu menjadi orang yang sempurna akalnya kamu harus memilih selamat dengan diam.”
            Orang yang bodoh ( tidak mengetahui kebenaran ) mempunyai sifat selalu ingin menang dan merasa pintar. Dan orang yang bodoh berada di mana saja. Jika sebelumnya disampaikan dalam kitab Ta’limul Muta’alim bahwa kamu, saya atau siapapun harus selamat dari tipu dayanya orang – orang yang memusuhi kita. Jika ada orang yang emosi janganlah kita membalas ataupun membantah. Hal ini kemudian diperjelas oleh Syekh Umaed bahwa Orang yang cerdas ( sempurna akal – ذو العقل) selalu dihadapkan keadaan yang apes ( tidak selamat ). Dalam keadaan tersebut Beliau menghimbau akal orang cerdas untuk memilih selamat dengan tak perlu membalas ( diam ).
            Ibarat ketika kamu diskusi dengan temanmu yang bodoh ( tidak mengetahui kebenaran ) membahas bensin yang kini sedang langka. Jika kamu membahas sesuatu pada orang yang tak tahu dapat dipastikan ia akan ngeyel ( ngotot merasa benar ). Sementara kamu mengerti penyebab kelangkaan bensin berdasarkan sebuah analisa dan dasar maka ketika kamu berdiskusi dengan temanmu hanya akan ada pembicaraan, “ Ini semua hanya karena si A menjadi Presiden. Beginilah jika Negara Hastina dikuasai oleh Petruk.” Sekalipun kamu mengetahui keadaan yang sebenarnya berdasarkan analisa namun kamu akan seperti didzolimi jika kamu membantah. Orang bodoh akan menetapkan dirinya benar bahkan mengejekmu sebagai orang bodoh. Debat dengan orang bodoh adalah debat yang tak berguna. Maka hendaknya orang cerdas memilih selamat dengan diam.
( فصل في الإستفادة ) وينبغي أن يكون طالب العلم مستفيدا في كل وقت حتى يحصل له الفضل وطريق الإستفادة أن يكون معه في كل وقت محبرة حتى يكتب ما يسمع من الفوائد العلمية قيل من حفظ فرّ ومن كتب شيأ قرّ.
         Fashl - Manfaaat ilmu. Orang yang mencari ilmu setiap waktu bisa mendapatkan keuntungan. Tholibul Ilmi ( Orang yang mencari ilmu ) yang tidak mendapatkan manfaat maka niatnya perlu ditata kembali. Jika niatmu benar maka kamu akan mendapat Nur dari Allah sebab mencari ilmu. Derajatmu akan ditingkatkan oleh Allah tanpa kamu sadari. Semisal bandingkan wajah orang yang mengaji (mencari ilmu) dengan orang yang tak pernah mengaji tentu berbeda. Juga sikap orang – orang terhadapmu sebelum dan sesudah mencari ilmu tak akan sama.
            Supaya kamu mendapat kemanfaat ilmu tersebut maka hendaklah Tholibul Ilmi selalu membawa pulpen (tinta). Agar segala sesuatu yang disampaikan gurunya dapat ditulis. Orang yang memiliki ilmu hidupnya tidaklah susah karena Allah yang memudahkan, dan ini merupakan faedah (manfaat) ilmu. Dengan satu titik pulpen akan menjadi suatu pemikiran. Jika dikorelasikan pada jaman yang serba canggih ini tentu tidak hanya sebatas pada pulpen. Tulisan yang ada bisa dipublikasikan via website atau blog agar tersimpan di sana dalam jangka panjang. Dan dari ilmu - ilmu yang diperoleh dari menulis kemudian dapat dibukukan agar dapat dibaca oleh khalayak banyak.
            Orang yang hafal akan suatu ilmu maka ia akan ahli dengan ilmu tersebut. Sehingga ia akan melakukan sesuatu dengan ilmu yang dihafal tersebut tanpa memakan waktu yang lama. semisal seorang yang memiliki ilmu merakit komputer di luar kepala ( hafal ) tentu akan membutuhkan waktu yang lebih sedikit dalam menjalankan hal tersebut dari pada orang yang tidak memilikinya. Kemudian dijelaskan orang yang menulis apa yang di dengar maka ilmunya akan tetap. Ilmu tersebut akan tetap teringat karena kamu tulis. Tulisan menjadi pengingat ketika lupa.
            Ada sebuah cerita sang Kyai yang memberi suatu ilmu pada muridnya dengan mendengarkan sebanyak tiga kali namun tidak boleh ditulis. Nah, ini yang menyebabkan ilmu tersebut hilang tapi jika sanggup hafal benar – benar menjadi sakti. Ilmu – ilmu semacam itu sekarang disebut santet namun dahulu ilmu tersebut hanya dipergunakan untuk melawan penjajah. Karena tidak diperkenankan untuk menulis maka sang santri yang mendapat ilmu tersebut kini lupa dan tak bisa mengingat lagi.
            Demikianlah jika ingin menjadi ahli dan mahir dengan ilmunya maka ia harus hafal. Dan ia haruslah menulis sebagai pengikat dari hapalan yang bisa saja terlupa.

Yogyakarta, 26082014
Pondok Pesantren Darul Ulum wal Hikam (DAWAM)
Pengajian dibawah asuhan Kyai Sugeng Utomo


NB : apabila terdapat kesalahan dan kekurangan semata berasal dari Penulis  

Tafsir Al Ibriz Al Baqarah ayat 199



{199} ثُمَّ أَفِيضُوا مِنْ حَيْثُ أَفَاضَ النَّاسُ وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Kemudian bertolaklah kamu dari tempat bertolaknya orang-orang banyak (Arafah) dan mohonlah ampun kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Al Baqarah : 199)
Then depart from the place from where [all] the people depart and ask forgiveness of Allah . Indeed, Allah is Forgiving and Merciful.
Tersebutlah kaum Quraisy dahulu adalah kaum yang sombong dan merasa hebat. Kala itu mereka tak mau berkumpul dengan manusia – manusia yang lain. Ketika orang – orang wukuf di Arofah, para Quraisy wukuf di Muzdalifah. Lalu turun ayat ini supaya kaum Quraisy mau berkumpul bersama manusia wukuf di padang Arofah dan memohon ampun kepada Allah.
            Di sini terdapat pula bagaimana cara berorganisasi dimana manusia tidaklah selayaknya meminta untuk diperlakukan terhormat. Contohnya, kubur ingin mendapatkan tempat khusus tersendiri. Sifat gumedhe (sombong) tidak diperbolehkan. Ada lagi, yang ini kebanyakan melanda wanita yang merasa ingin diistimewakan seperti halnya kaum Quraisy sehingga mempengaruhi sikapnya menjadi sok – sok an. Dalam keseharian santri di Ponpes Dawam dimisalkan menisbatkan diri sebagai satu – satunya anak kyai di sini, atau sebagai satu – satunya mahasiswa dari Universitas tersohor di Yogyakarta. Hal tersebut tidak diperbolehkan dan Allah telah mengingatkan dalam ayat ini.
Orang – orang seperti kaum Quraisy masih banyak hingga saat ini. Jika kamu termasuk orang – orang tersebut maka memohon ampunlah kepada Allah.. Saya tidak istimewa Derajat manusia di dunia sama yang membedakan hanya ketakwaan. Kala wudhu menangis kepada Allah meminta dibersihkan oleh Allah, setelah niat wudhu menyebut dalam hati “اللهم اجعلنا منك   ". itu namanya dilalah yang diberikan Allah, ketika kamu dihormati karena Allah menghendakinya bukan karena kamu sendiri yang ingin diistimewakan. Lalu diceritakanlah anak Pak Yai Sugeng Utomo yang masih berusia belia ( umur 5 tahun dan 7 tahun ) seringkali dimarahi ketika mempunyai rasa ingin dihormati. “Kowe iku sopo? Kok pingin dihormati” , demikian ujar beliau. Tunjukkan diri takwa kepada Allah, maka Allah yang akan mengatur kemulyaanmu. Allah yang memulyakan dengan memberi karomah padamu.
Wallahu A’lam bi showab.

Ponpes Darul Ulum wal Hikam ( Dawam ) Yogyakarta
23082014  
Nb : Pengajian di bawah asuhan Kyai Sugeng Utomo

Apabila terdapat kekurangan semata – mata murni dari penulis.