Rss Feed
Tampilkan postingan dengan label Catatan Harian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan Harian. Tampilkan semua postingan

Prosedur Perpanjang SIM



            Sekedar share pengalaman saja, Aku perpanjang SIM sekitar bulan April 2019 di Tangerang Banten. Hal pertama yang perlu diketahui adalah “Sesuai pasal 11 ayat 1 Perkap No 9 Tahun 2012, masa berlaku SIM itu lima tahun sekali, dapat diperpanjang sebelum habis masa berlakunya”[1]. Masa berlaku SIM berjangka lima tahun dan prosedur perpanjangan SIM dimulai sekitar 10 hari atau semingguan dari batas kadaluarsa SIM jadi diinget-inget yah jangan sampai terlewat. Jika melampaui batas akhir 1 hari saja harus mengajukan SIM baru seperti awal maka kamu harus ikut tes dan keperluan administrasi awal. Kabar gembiranya bagi anak-anak rantau, SIM dapat diperpanjang di tempat manapun seluruh Indonesia meski tak sesuai dengan kota asal pembuatan SIM.
           
Tempat perpanjangan SIM ini sendiri dapat dilakukan di Gerai SIM, SIM Keliling atau POLRES. Sebelum mengurus SIM, aku sempat research dulu di internet ada beberapa yang bilang bisa ngurus di SAMSAT sesuai dengan info dari beberapa teman. Tetapi saat aku berkunjung ke SAMSAT, petugasnya menegaskan aku salah alamat (haha). SAMSAT merupakan tempat mengurus pajak motor, bukan seputar SIMnya. Padalah niat awal aku cari tempat yang dekat aja agar gak terlalu makan waktu perjalanan dan gak capek Keesokan harinya Aku menuju POLRES Tigaraksa yang butuh waktu sekitar 30 menit menurut gmap tapi somehow abang Grabnya juga gak tau letak POLRESnya dan kebetulan kawasan POLRESnya gedhe banget. Kami muter-muter dulu sebelum akhirnya diturunin di pos pembuatan SIM. Aku sih lebih menyarankan mengurus SIMnya di SIM keliling saja jadi tidak terlalu antri.
Perpanjangan SIM juga bisa dilakukan secara online juga, cuma kita tetap harus menuju ke POLRES terdekat untuk kelanjutan dari prosedur perpanjangan tersebut. Kalau sama-sama haru ke POLRES ujung-ujungnya bagi aku mending sekalian urus di POLRES semua, gak ribet kalau menemui kendala bisa langsung tanya kepada petugas yang bersangkutan.
           
Biaya dan Prosedur Perpanjangan SIM
            Biaya perpanjangan SIM saja berkisar:
SIM A = Rp 80.000,00
SIM C = Rp 75.000,00

Tapi ini belum termasuk persyaratan yang lain-lain, seperti
1.    Surat Kesehatan
Aku diarahkan ke balai kesehatan POLRES yang memang disediakan untuk keperluan surat keterangan sehat. Biaya pemeriksaan kesehatan dikenakan sekitar Rp 25.000,00 sampai Rp 35.000,00 aku agak lupa, tapi karena aku sudah bawa sendiri surat keterangan sehat dari klinik terdekat tempat tinggalku jadi aku cukup bayar sekitar Rp 15.000,00 saja.

2.    Tes Psikologi
Biaya tesnya sebesar Rp 100.000,00. Biaya yang agak di luar perkiraan karena aku pikir biaya tes sudah include biaya SIM tapi ternyata aku kalkulasiku meleset. Kamu tidak perlu khawatir atau risau karena tes ujiannya gampang banget banget banget, kamu tinggal jawab beberapa pertanyaan pilihan ganda yang hanya membutuhkan waktu beberapa menit saja trust me.

3.    KTP asli
4.    SIM lama

Setelah persyaratan lengkap, kumpulkan di loket yang ditentukan lalu kamu akan diarahkan mengisi formulir serta membayar biaya administrasi SIM C sebesar Rp 75.000,00 (sesuai yang aku sebutkan di atas). Ini juga perlu diingat, JANGAN LUPA BAWA PULPEN. Saat itu pulpen yang berfungsi hanya satu sementara lembar formulir yang diisi lumayan memakan waktu jadi antri lama. Petugasnya acuh saja meski tahu keadaan demikian, resiko layanan umum apa memang harus begini?
Selanjutnya kita tinggal menunggu panggilan foto yang lama banget banget banget, bukan karena orang-orang antri tapi petugas fotonya entah kemana jadi tak ada satupun yang dipanggil hingga 1 jam lamanya. Ruang tunggu ada fasilitas wifi berikut password  yang tertempel di dinding, tapi hp aku low bat kebetulan tidak bawa power bank jadi aku cuma diam duduk aja di tengah semua pengunjung lelaki lainnya. Ya benar, aku perempuan sendirian antri dan gak bisa main hp, kebayang kan.
Sekitar satu setengah jam kemudian akhirnya namaku dipanggil, foto, lalu diarahkan menuju tempat antri pengambilan SIM baru. Kali ini antrinya tidak terlalu lama, setelah SIM diambil di dekat pintu keluar ada jasa laminating SIM sebesar Rp 10.000,00. Jadi total semua biaya 75.000 + 15.000 + 100.000 + 10.000 = Rp 200.000,00
Hal yang pasti tiap daerah adalah biaya SIM C Rp 75.000,00 dan SIM A Rp 80.000,00 sementara biaya lainnya berbeda-beda.  Biaya perpanjang SIM menurut pengalaman saudaraku di Rembang Jateng bulan September 2019 yaitu Rp 75.000,00 sudah termasuk pemeriksaan kesehatan dan tes, lalu ditambah biaya administrasi Rp 25.000,00 jadi total Rp 100.000,00 (separuh biaya yang aku habiskan). Tempat  mengurus perpanjang SIMnya bukan di POLRES melainkan di SAMSAT jadi pastikan untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya di daerah tempat tinggalmu terlebih dahulu. Segala hal yang aku uraikan di atas bukan Smart SIM yang akan diluncurkan sebentar lagi ya, tapi kurang lebih syarat dan prosedur perpanjangan SIMnya tetap sama.

Thank you for reading J J
23092019
Sofie Nadya
             



[1] Artikel ini telah tayang di tribunlampung.co.id dengan judul Biaya Perpanjang SIM Tahun 2019, Daftar Lengkap Syarat dan Cara Perpanjang SIM, https://lampung.tribunnews.com/2019/03/31/biaya-perpanjang-sim-tahun-2019-daftar-lengkap-syarat-dan-cara-perpanjang-sim.
Editor: Ridwan Hardiansyah

Training menjadi "BOS"



Jumat, 12 Juni 2015 hingga 14 Juni 2015 kami memperoleh pelatihan kewirausahaan bagi wirausaha pemula yang diselenggarakan oleh KEMENKOP dan Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Manusia di hotel Grand Palace Yogyakarta. berawal dari teori sosiolog David McClelland dengan statemen“ Suatu Negara akan sejahtera apabila paling sedikit 2% dari penduduknya adalah wirausaha” maka pelatihan ini merupakan upaya Pemerintah memakmurkan negara tercinta kita dengan menaikkan jumlah wirausahawan terlebih lagi demi mempersiapkan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) akhir tahun 2015. sasarannya adalah para kaum muda yang mulai merintis bisnis dan bagi yang telah memiliki rencana bisnis (Bisniss Plan) yang matang.

Di hari pertama kami memperoleh pengetahuan tentang koperasi, sistem dan bentuk usaha. dilanjutkan dengan materi wirausaha sebagaimana yang diajarkan Rasulullah. dan materi utamanya yakni tentang Young Enterpreneur oleh H. Moch. Amar Khana, M.M.Pd sebagai konsultan bisnis dari Bandung. kami diajarkan untuk melihat peluang dan bermental "BOS" karena berdasarkan data statistik yang ditunjukkan pada kami, para lulusan Perguruan Tinggi lebih banyak memilih bekerja di bawah instansi atau perusahaan dibandingkan dengan membuka usaha mandiri. para wirausahawan justru banyak datang dari lulusan SMP yakni dengan prosentase 32,46% sedangkan lulusan Perguruan Tinggi hanya sekitar 6,14%.

Yang menarik kami praktek langsung membuat Bisnis Plan dan mendapat pendampingan langsung. nantinya proposal bisnis kami  ini akan langsung dibawa ke jakarta oleh panitia yang telah diutus oleh KEMENKOP. Bisnis Plan yang lolos seleksi akan mendapatkan bantuan modal maksimal 25 juta. jumlah yang lumayan bukan ? jika nantinya pengelolaan usaha ini gagal di tengah jalan maka kita mendapat kewajiban untuk menggantinya, namun tentunya harus ada bukti laporan tiap bulan sebagai bukti dari beroperasinya dari usaha tersebut.

Pelatihan ini dilakukan di beberapa wilayah di Indonesia, bisa juga mengajukan pelatihan tersebut ke KEMENKOP. Hanya wirausahawan yang berani bermimpi jadi orang kaya, 
Jadi mari bercita - cita seperti Abdurrahman bin Auf, sahabat Rasulullah yang kaya dan dermawan.


Tapak Kaki Jogja part II

Masih bercerita tentang Jogja nih.
yang bikin nyaman bepergian kemanapun di sini adalah karena fasilitas TranJogja yang disediakan pemerintah dengan harga yang sangat terjangkau (cukup Rp3000,- untuk tujuan manapun).Bus mini dengan kapasitas penumpang sekitar 20 orang ini dilengkapi AC dan tersedia koran Harian Jogja juga untuk mengisi kejenuhan.Kursi - kursing juga nyaman untuk sekedar menikmati pemandangan di luar bus tran. Bus Tran ini memiliki jalurnya masing - masing sesuai dengan kode bus yang tertera.
Tak tahu tahu naik bus kode apa?

jangan khawatir, cukup tanya ke petugas bus tran baik itu yang bertugas di loket pembayaran ataupun sebagai "kernet" di dalam bus. terkadang kita harus oper bus beberapa kali jika tak sesuaidengan jalurnya. namun tenang saja kawan, berapa kali oper pun takkan membuat kita merogoh saku kita kembali selama kita tidak keluar dari shelter bus Tran.Juga dengan banyaknya kaum pelajar ditemui sesuai dengan julukannya sebagai kota pelajar, suasana mendukung jika kita ingin mengisi waktu luang dengan membaca atau belajar di shelter baik ketika menunggu kedatangan bus di shelter ataupun tengah dalam perjalanan menuju ke tempat tujuan.

Apa itu Shelter? Shelter adalah tempat pemberhentian khusus Bus Tran Jogja. ketinggiannya sekitar 1 meter dari tanah jadi bus Tran tak bisa berhenti di sembarang tempat. shelter ini juga dibatasi kaca etalase sehingga berbentuk persegi panjang jika dilihat dari jauh. Untuk bisa memasuki shelter ini kita diharuskan membayar Rp 3000,- yang sekaligus itu akan menjadi fee transport kita dengan bus Tran Jogja. maka jangan sekali - kali meninggalkan shelter jika masih ingin berkendara dengan bus tran, karena begitu kita keluar dari wilayah shelter kita akan dikenai fee lagi Rp3000,- seperti halnya orang lain yang baru memasuki shelter.

Mau melatih kemampuan bahasa Inggris? di bus tran pun tak jarang kita jumpai turis asing bertandang di negeri kita. malah kebanyakan mereka tidak memakai jasa guide , jadi kalau mau SKSD lebih leluasalah, hehe. tapi jangan terlalu norak ya kawan (misal, heboh berlebihan lihat ada bule), kehadiran bule - bule mancanegara ini sudah menjadi pemandangan lumrah di Jogjakarta sehingga masyarakat memberi perhatian yang tak berlebihan dengan orang asing tersebut.

selain bus Tran,ada satu hal lagi yang menarik. mahasiswa - mahasiswa yang hendak menyelenggarakan suatu event di samping menyebar proposal, mereka juga mengupayakan danus (dana usaha). maka para kaum pelajar ini merelakan diri berjualan kerajinan, es, makanan dsb di Malioboro atau tempat perbelanjaan ramai lain seperti SunMor (Sunday Morning) demi suksesnya event mereka.saya sempat mencoba yang satu ini. saya berkeliling di SunMor membawa nampan berisi es teh dan es jeruk yang dikemas dalam cup gelas. wah bukan main kaku pada awalnya mengingat selama saya hidup selalu berada di safety zone. namun selang beberapa waktu saya dengan Percaya Diri menawarkan dagangan layaknya pedagang asongan di bus - bus umum. apalagi setelah saya temukan bukan hanya saya dan kawan - kawan yang berjualan demikian.di stand lain ternyata sekumpulan anak muda seperti kami menjajakan puding, es buah, tas, rok bahkan dengan dagangan yang sama dengan kami.

ada tips - tipsnya nih dalam berjualan seperti ini. pertama pastikan penampilan anda rapi dalam menjajakannya, dengan penampilan yang sedap dipandang tentu pembeli akan lebih senang membeli dagangan kita.terlebih kita menggunakan tema tertentu dengan busana kita atau memakai padanan baju yang sama dengan semua rekan kita tentu akan menambah daya tarik. kedua kebersihan stand. ini penting sekali, masyarakat jogja cenderung kritis dengan kebersihan serta kandungan produk yang dijual. kebersihan yang ditampakkan di stand akan menjadi pertimbangan utama pembeli. selain itu warga jogja menyukai bahan yang murni dan alami,sehingga mereka seringkali mempertanyakan kandungan makanan atau minuman yang dijual, seperti ada campuran ataukah tidak, memakai gula murnikah, dll. ketiga, Percaya Diri. Jika menginginkan pemasukan yang banyak jangan sekali - kali menyandang rasa gengsi pada diri. Begitupun dengan rasa malu yang mengakibatkan ragu - ragu dalam menjajakan barang. hal ini tentu akan menurunkan minat pembeli. keempat,Perbanyak Senyum :). Ramah tamah dan tebarkan senyum ke semua orang agar pembeli senang mendekati dagangan kita. sapa juga semua orang dan jangan lupa ucapkan terima kasih ketika mereka membeli. akan lebih baik jika disertai ucapan "semoga liburannya menyenangkan", "selamat jalan - jalan", "semoga harinya menyenangkan", dsb.

Hasilnya sangat lumayan loh kawan. waktu itu kami menjajakan es dalam durasi 2 jam dan pemasukan yang kami dapat sudah mencapai 3 kali lipat dari modal awal. sayangnya es batu yang kami miliki ternyata tidaklah cukup banyak, sehingga kami harus berhenti menjajakan dagangan dan pulang.

Demikian sedikit sharing dari saya. maaf jika tulisannya agak amburadul, lagi suntuk, hehe.

Jogjakarta, 1 Oktober 2014
Nadine Husein    
  

Manfaat belajar Ushul Fiqh

    Sedikit berbincang dengan Gus Birin (panggilan Gus M.Shobirin) malam hari ini lebih mendorong kami untuk men-konstektual-kan pemikiran kepesantrenan kami dengan persoalan kehidupan modern yang semakin beraneka ragam dan membutuhkan hukum di dalamnya. begitupun bagaimana agar kita tetap berbaur ( dalam arti tidak tersisih ) namun tetap berpegang teguh dengan kereligiusan kita.
   Begitupun ketika berkecimpung dalam dunia pendidikan (kebetulan jurusan saya Pendidikan Agama Islam). Kita nantinya harus menjelaskan arti dari Agama Islam itu sendiri. Apakah Agama Islam adalah Fiqh? Syariat dan fiqh sama ? Karena definisi agama belum pernah mendapat kata sepakat dari seluruh pemuka agama di dunia. tak ada yang pernah benar - benar bisa mendefinisikannya.(Mungkin Pembaca ada yang bisa memberi jawaban ^^).
   Lalu sampailah pada penjabaran antara ulama, nushus, qodhoya, dan ushul fiqh. sebuah segitiga yang saling terkait sementara ushul fiqh berada di titik tengah segitiga tersebut.Ushul fiqh merupakan metode yang dipergunakan ulama dalam memperoleh suatu hukum.Apakah dengan belajar ushul fiqh lantas kita akan bisa menjadi seorang mujtahid? lalu jika tak bisa untuk apa kita belajar ushul fiqh?
berikut keterangan dari Gus Birin.
  
Manfaat belajar Ushul Fiqh dapat ditinjau dari beberapa segi :
 
1. Segi Sosiologis
     Dengan ilmu esensial yang kita dapat dari belajar Ushul fiqh,kita menjadi lebih menerima dengan adanya perbedaan karena kita telah mengetahuisebab musabab serta dasar pemikiran yang digunakan oleh suatu pihak hingga memunculkan perbedaan tersebut. takkan ada lagi permusuhan membabi buta sebab fanatisme yang berlebihan.
2. Segi Akademis
    Dengan mempelajari ushul fiqh, kita akan mengetahui dasar pemikiran dari madzab yang kita anut sehingga akan memperkuat keyakinan dalam menjalani syariat dalam suatu madzhab.
3. Segi Psikologis
    Ushul Fiqh membuka cara pandang akan kehidupan sehingga seseorang akan menjadi lebih bijak dalam menyikapi suatu persoalan.Mengapa demikian ? Karena ia  akan melihat persoalan tersebut dari berbagai sisi. Hal ini berbeda dengan orang yang cara pandang hidupnya secara fiqh, umumnya orang - orang semacam ini cenderung fanatik dan berlebihan dalam menghadapi persoalan. 
   
   Lebih lanjut Gus Birin berpesan untuk tidak berpuas diri dalam satu bidang keilmuan. Perkaya diri dengan berbagai ilmu dan sering share ilmu dengan orang lain dari bidang lain pula.
   Yuk, belajar, belajar dan belajar :)

Yogyakarta, 2 September 2014
Nadine_Husein



Kawan Baru, Cerita Baru

Mari Cekikikan Bersama

Sudah sebelas hariku bergulir di Jogja. Di sini aku berkumpul dengan orang – orang serumpun. Tahu kan maksud serumpun? Jadi aku berkumpul kembali dengan etnik asalku yakni Jawa Tengah. Terlebih lagi di tempat aku tinggal ini sebagian besar dihuni orang dari Jawa Tengah daerah utara seperti Semarang, Demak, Jepara, Blora dan tak ketinggalan tanah kelahiranku Rembang.
Lucunya dengan kembalinya aku pada komunitas Jawa Tengah ini ternyata mereka menemukan banyak logat dan bahasa jawa yang berbeda. Hehe, nampaknya hidup delapan tahun di Jawa Timur membawa pengaruh linguistik yang tidak aku sadari. Pertama dari kebiasaanku memanggil laki – laki muda baik kenal maupun tak dikenal dengan sebutan “cak”, di sini tentu saja panggilan tersebut sangatlah tidak lazim. Lumrahnya memanggil dengan sebutan “mas”, sedang untuk dalam lingkungan Pesantren Jawa Tengah lebih sering menggunakan “Kang”.
Ada lagi yang membuatku tampak lucu di depan teman – teman baruku ini. Istilah “mari” dalam bahasa Jawa Timur bisa memiliki tiga arti yaitu sembuh, ajakan, selesai. Jadi dalam proses antri mengantri khas Pesantren aku terbiasa menggunakan kata “mari” seperti ini contohnya : “mari peyan sopo mbak?” ( Setelah kamu siapa mbak? ). Nah, yang aku ajak bicara selalu loading (istilah anak muda ketika sesuatu membutuhkan waktu agak lama) dahulu dan balik bertanya, “mari ?” dengan dahi berkerut. Kontan saja dia langsung tertawa cekikan ketika aku menjelaskan maknanya.
Selain itu juga penggunakan kata “arek – arek”  untuk penyebutan orang – orang muda sebagai sudut pandang orang ketiga. Kosa kata yang selalu mengundang senyum jika aku pergunakan di sini karena lazimnya memakai kata “bocah – bocah”. Aku jadi teringat saat pertama kali aku hidup di Jawa Timur. Kala itu aku sering merasa aneh dan lucu terhadap bahasa dan budaya mereka. Namun ternyata lambat laun tanpa aku sadari aku turut berbaur dan menjadi produk cetakan Jawa Timur.

Kini dengan logat dan kekhasanku yang mengundang senyum aku justru lebih mudah bergaul dengan teman – teman baruku. Karena keakraban yang pertama tercipta tanpa disadari lewat senyum dan tertawa cekikikan bersama, Hihihi. Cerita dan pengalaman yang diceritakan pun akan semakin bervariasi. Selamat Berteman ^_^.

Yogyakarta, 28 Agustus 2014
Nadine_Husein

Tapak Kaki di Jogja

          Jogja dengan segala keeksotisan khasnya. Yang dahulu sempat membuatku terlena untuk sering bertandang ke kota ini, kini aku menjadi penghuninya. Sabtu sore 16 Agustus 2014, setelah berpamit dari Pondok Putri Pesantren Tebuireng aku langsung melesat menuju kota Gudeg bersama kedua orang tua tercinta dan seorang temen abah yang hendak menjenguk putranya. Masih terbayang peluk cium dan tangis dari anak – anak cukup memberatkan hati. Namun aku harus pergi untuk menemukan diriku, jiwaku, asaku. Pukul 2 dini hari tepat tanggal 17 Agustus 2014 dipandu oleh mas aik (putra teman abah) tibalah kami di Ponpes Darul Ulum wal Hikam. Pondok yang menurut Abah tepat untukku di bawah asuhan Kyai Muda Sugeng Utomo. 
         Mengusung pendidikan humanis dan tuntunan akan hidup santrinya begitulah kiranya gambaran yang aku tangkap, aku pun manut akan arahan orang tua.  Kami menunggu hingga hari cukup terang untung bertamu dengan Pak Kyai. Sejenak istirahat namun mata enggan terpejam, rasa di hati ini memang benar – benar tak karuan. Singkat kata akhirnya tibalah saatnya aku berpisah dengan keluargaku. Dengan pesan – pesan dan harapan pada putri satu – satunya ini. Kiranya aku hanya berusaha tegar, tangis sunyiku pecah kala aku tengah seorang diri di kamar.
Situasi dan kondisi tentu saja takkan sama antara tempat satu dengan yang lain, karena itulah jiwa tentu perlu adaptasi. Dalam saat transisi seperti ini terkadang menjadi penentu apakah kita akan melanjutkan tujuan atau justru berpindah lagi. Hal serupa terjadi pula padaku. Meski aku sudah mewanti – wanti diri untuk siap dengan segala hal nanti namun tak urung kegamangan menyerang hati. Untungnya pesan – pesan Pak Kyai ketika sowan tadi pagi cukup membantu untuk pegangan. 
Pertama, Ikhlaskan diri. segala hal dalam hidup ini harus dijalani dengan hati yang ikhlas bahkan dari hal-hal yang remeh sekalipun. Lebih lanjut Pak Kyai memberi contoh ringan yang benar – benar mengena, memegang keset dengan dua jari (pertanda jijik) mendapat amarah besar dari Bu Nyai. Keset harus digenggam selayaknya baru setelah itu cuci tangan bahkan dalam menggenggam keset seperti itupun juga perlu ikhlas. 
Kedua, Tawadhu. Jangan menyombongkan apa – apa yang telah kamu lalui selama ini. Jika memang kamu memiliki sebuah kemampuan, kamu akan bisa menunjukkannya tanpa banyak berultimatium. 
Ketiga, Jangan membanding –bandingkan dengan pondok sebelumnya. Yang satu ini cukup menohok hati, hehe. Pasalnya naluri manusia sebagai makhluk tak sempurna yang cenderung mencari kesempurnaan membuat ia suka membuat perbandingan – perbandingan demikian. Pak Kyai menyadari hal tersebut, beliau mengingatkan aku bahkan sebelum aku sempat berpikir ke arah itu.  
Keempat, Temukan dan kembangkan Skill-mu. Apa – apa yang kamu peroleh di bangku kuliah tidaklah cukup untuk membantu kehidupanmu di masa depan. Kamu harus mempunyai nilai plus tersendiri. Suatu nilai yang benar – benar kamu suka dan mampu untuk melakukannya. Jalan mengembangkan “ingin”mu itu banyak, namun kamu harus tahu apa yang benar – benar kamu “ingin”-kan dan pastikan kamu enjoy menjalaninya. 
Kelima, Pantaskan diri. Jika kamu sudah tahu apa “ingin”mu maka pantaskan dirimu untuk menjadi ahli di dalamnya. Jadikan ia bukan sekedar sampingan ecek –ecek, seriuslah dan jadilah professional. Sepertinya ini yang aku suka dari Pak Kyai, sebuah arahan dan wejangan yang telah lama tak aku dapat. Meski ada sebuah harga yang aku bayar untuk menjadi santrinya. Yaitu kembali ke kehidupan sederhana khas santri dengan segala keterbatasannya. Tak apa karena itu adalah bagian dari proses. Ayo semangat.  


Darul Ulum wal Hikam - Yogyakarta
18082014