Rss Feed

Tenggelamnya Buah Pikir Anak Bangsa


Oleh : Shofiyana Nadia Fairuz*
Kualitas pendidikan suatu negara ditunjukkan dari kualitas tenaga pendidik. Begitupun dengan regenerasi yang disiapkan untuk menyongsong  pendidikan di masa akan datang. Dari aspek ini kaum muda dipandang investasi berharga dalam suatu Negeri. Secara teori, Negara dengan jumlah prosentase penduduk berpendidikan besar akan memberikan prospek yang cerah bagi Negara tersebut.
Mahasiswa sebagai kaum intelektual dan kritikus sosial sedikit memberi cerminan akan masa depan Indonesia. Meningkatnya kesadaran “berpendidikan” dari berbagai kalangan masyarakat menimbulkan corak baru khususnya bagi masyarakat Indonesia. Sayangnya kesadaran positif ini tak berimbang dengan kondisi praktisi mahasiswa. Dalam prosesnya mematangkan keilmuan banyak ditemukan berbagai kejanggalan yang rupa – rupanya telah menjadi rahasia umum. Perkembangan teknologi yang berkembang ternyata memberikan dampak yang kompleks bagi masyarakat Indonesia khususnya di kalangan mahasiswa.
Tampaknya dari sini kaum ini menemukan jalan pintas yang terbuka luas tanpa batas melalui teknologi paling mutahir di abad 21 ini, Intenet. Segala tugas yang dibebankan mulai dari makalah, tugas akhir semester, ujian – ujian, bahkan karya tulis ilmiah yang akan mengantarkan mereka menuju pintu akhir gelar sarjana, skripsi diselesaikan dengan beberapa kali klik. Sungguh ironis memang, plagiarisme menjadi sangat lumrah dan menjamur dimana - mana tanpa mengenal musim.
Mengapa hal ini bisa terjadi? Manusia hari ini adalah hasil dari pembentukan diri di masa lalu. Jika kita sedikit menengok ke belakang, “kaum terdidik” kita secara tak langsung mendapat pembenaran akan perilaku mereka saat ini. Bagaimana tidak, sekian tahun para pendidik mendoktrinkan sifat kejujuran dalam proses pembelajaran, namun ujian akhir nasional pendidik membenarkan perilaku menyimpang jauh dari nilai – nilai tersebut. Maka berlanjutlah perilaku amoral yang demikian, mulai dari jual beli soal, ijazah hingga lahirnya “ghost writer” dalam dunia pendidikan. Ghost writer ini bertindak sebagai pelaku di balik layar bagi mereka yang ingin mendapatkan nilai A dalam perkuliahan tanpa perlu bersusah payah.
Dampak dari lingkungan pun tak ketinggalan turut menjadi penyebab munculnya corak warna hitam dalam pendidikan. Sudah tak asing lagi di telinga pungutan liar yang dilakukan polisi lalu lintas, hal prosedural seperti pembuatan SIM dan KTP bisa diperoleh  dalam waktu singkat dengan membayar uang lebih. Generasi muda kita telah terbiasa dengan hal – hal kotor dimanapun. Sementara pendidikan moral yang diberikan tidak berimbang. Sehingga perilaku menyimpang demikian dipandang sebagai suatu kewajaran.
Di samping itu kurangnya kontrol dari instansi pendidikan terkait menjadi pemicu munculnya generasi intelektual tak beneh (istilah benar dalam bahasa jawa timur). Dalam tingkta perkuliahan, peserta didik dianggap memiliki kontrol diri yang cukup melihat dari faktor usia yang telah mencapai kategori dewasa. Karena asumsi dewasa inilah yang menjadikan para mahasiswa merasa bebas melakukan banyak hal terlebih ketika berkurangnya tingkat ketelitian dan pengawasan dosen sebab kesibukannya. Maka hal yang menjadi acuan sebagian besar mahasiswa malas adalah “yang penting bayar lunas dan tugas terkumpul takkan ada masalah”.    
Maka dari inilah lahir sarjana – sarjana muda sebagai kaum intelektual yang bahkan tak mengerti dengan studi yang digelutinya. Para generasi muda dengan berbagai titel bergengsi yang disandang bukannya memajukan Indonesia namun justru menjadikan Indonesia semakin statis berjalan di tempat. Memang sebagian mahasiswa tetap berjuang dengan eksistensi mereka sebagai “pelajar sejati” dengan menghindari hal – hal menyimpang tersebut. Namun jumlah komunitas mereka dirasa semakin kecil dan terhimpit oleh kotoran hitam dunia pendidikan.
Alhasil usaha keras pelajar sejati ini akhirnya tertutupi oleh para pelaku kotor pendidikan hingga sulit dibedakan antara keduanya. Di tengah himpitan tersebut penimba ilmu sejati akhirnya terpecah lagi menjadi dua. Sebagian tetap kukuh akan jalan lurus yang di tempuh, sementara sebagian yang lain akhirnya turut serta bergabung dalam dunia kotor pendidikan sebagai ghost writer. Penyimpangan mahasiswa diakui melahirkan profesi yang cukup menjanjikan pundi – pundi emas tak kalah banyak dengan PNS sekalipun.
Lalu timbul pertanyaan, apa solusi dari tindakan penyimpangan ini? Pemerintah Indonesia bukannya menutup mata akan pencurian pemikiran tersebut. Seperti ditetapkannya Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI no. 17 Tahun 2010 sebagai lanjutan dari UU Hak Cipta No.19 Tahun 2002. Di antara beberapa tindakan pencegahan yang dicanangkan yaitu dengan melampirkan surat kesaksian tertulis dari dosen bidangnya dalam setiap karya ilmiah, penertiban jurnal ilmiah secara administratif, mengadakan sosialisasi rutin terkait plagiarisme. Meski demikian plagiarisme tidak akan serta merta menghilang begitu saja, diperlukan konstektualisasi pendidikan moral dan kontrol bersama dari berbagai lapisan masyarakat demi menggugah kesadaran generasi muda dan mendorong ide – ide brilian anak bangsa.
 

*)  Penulis adalah Mahasiswi Mahad Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng Jombang

Gerimis Desember


Gerimis ini tak kunjung reda. Aku menantimu di sini. Payung biru muncul dari ujung jalan. Kamu tersenyum dalam tatapan nanar.
“Apa yang terjadi sayang?”, Tanyaku pada adikku yang bukan anak kecil lagi. Ia hanya menggeleng.
“Ayo pulang mbak ”, ujarnya. Aku menurut mengikuti tarikan tangannya.
Hmmmmm hujan... aku menarik nafas dalam – dalam. Aku selalu suka aroma ini. Masih dalam aroma ini aku bertemu dengan Dani untuk pertama kalinya. Siapakah Dani? Ia adalah lelaki gagah yang mengikrarkan untuk merajut kehidupan bersamaku hingga akhir hayat. Lelaki yang memberikan calon buah hati dalam kandunganku meski ia akhirnya gugur sebelum sempat melihat dunia. Aku sempat syok dan sangat terluka. Telah lama kuimpikan jari – jari mungil menggenggam tanganku. Sosok kemerahan yang akan selalu merindukan dekapanku. Tangisku pecah setiap waktu, dan Dani selalu datang memeluk dan mencium keningku dalam – dalam. “Tak apa... “, ujarnya membelai rambutku. Begitu berjalanlah beberapa waktu lamanya. Desahan nafasnya selalu menenangkanku setiap malam. Senyum tulusnya ketika aku membuka mata dari tidurku membahagiakanku. Aku pun berangsur kembali pada diriku sendiri. Aku merasa selalu kuat bersamanya.
Kami memasuki sebuah gang kecil. Seperti biasa, aku tak pernah ingin berjalan tergesa dalam hujan ini. Tak peduli jika nanti aku basah kuyup atau bahkan sakit, aku selalu menikmatinya. Harun adikku pun maklum akan kesenangan kecilku ini. Ia lebih banyak diam sekarang, apa sekarang ia telah mulai berpikir akan memulai membangun kehidupan rumah tangga seperti kakaknya? Kami dilahirkan sebagai dua bersaudara. Tak ada yang tak kami ketahui satu sama lain. Kami sering bermain bersama, tak jarang pula kami bertengkar adu mulut. Ia suka meledek tentang hal – hal yang aku sukai. Mulai dari pita kecil warna pink yang sering aku pakai, acara TV, cemilan dan hujan. Hal terakhir ini memang baru aku sukai menginjak usiaku dua puluh. Harun adik paling usil sedunia, namun aku tahu ia sangat menyayangiku. Satu lagi yang membuatku semakin menyukai hujan akhir – akhir ini adalah hujan mampu menghentikan bisikan dan gunjingan orang – orang karena mereka sibuk satu sama lain menghangatkan diri. Sementara aku merasa lebih bebas berkeliaran di kala hujan. Aku tak mengerti apa yang mereka bisik – bisikkan ketika aku lewat di hadapan mereka. Padahal aku selalu berpenampilan rapi dan sopan setiap keluar rumah. Kata Dani hal ini merupakan salah satu bentuk menjaga kehormatan suami. Aku beberapa kali bercermin untuk memastikan tak ada yang aneh dengan diriku. Namun suara bisik – bisik tetangga serta tatapan aneh mereka tak kunjung berhenti, malah semakin banyak orang yang berbisik. Aku tak mengerti. Sering aku bertanya pada Ibu atau adikku yang selalu mengantarkan aku keluar rumah ketika Dani tak ada, namun jawab mereka hanya senyum lemah bahkan terkadang aku melihat gundukan air muncul di sudut mata orang – orang yang aku sayangi ini. Ah.. kenapa dengan orang – orang?
Dani masih belum kunjung pulang. Aku akan menjadi istri yang terbaik untukmu Dani. Aku akan selalu setia menantimu. Kamu tak lupa oleh – oleh yang aku pesan tempo hari melalui telpon bukan? Kali ini tak seperti biasanya kau harus pergi jauh ke bali. Konferensi Jurnalis  tingkat jawa bali katamu. Aku tak terlalu mengerti duniamu yang satu itu. Aku hanya mengemasi barang – barangmu dan menyelipkan pigura foto kita dalam koper. Aku merasa berat sekali melepasmu hari itu. Dan kau kembali menenangkanku. “Tak apa Lis..”, senyummu  mengembangkan senyum tipisku. Meski hatiku tak karuan akhirnya aku pun melepas kepergianmu.
Dani, aku benar – benar rindu. Memang benar kata orang, ketika dua hati terpaut berpisah satu menit  pun terasa setahun. Terasa begitu lama kau pergi, namun aku masih setia menunggumu dani. Aku semakin rajin memasak di dapur. Aku ingin menciptakan masakan baru untukmu. Aku suka senyum – senyum sendiri membayangkan  wajah cerahmu ketika mencicipi masakanmu. “Lisa, kamu adalah koki terbaik di dunia.”, begitu sanjungmu di awal pernikahan kita. Kali ini kau pergi agak lama Dani. Setelah dari Bali kau harus mengurusi bisnis besi tua ke Lombok. Kau baik – baik saja kan Dani? Aku tahu kau pun merindukanku. Aku juga senang ke salon merawat diriku untukmu. Rajin menggosokkan lulur ketika mandi, juga mengoles krim – krim ke wajahku. Kamu pasti akan terkaget – kaget melihat bidadarimu ini semakin tampil mempesona.
Oh ya, ada satu lagi kegiatan baruku. Setiap seminggu sekali aku pergi ke dokter Amin. Aku tak mengerti mengapa aku harus rutin kesana. Kata Ibu, ia adalah saudara jauh kami. Dan Ibu ingin hubungan persaudaraan kami tak putus begitu saja. Awalnya aku merasa aneh jika harus berkunjung setiap minggu. Tapi Ibu dan Harun tak hentinya mendesakku. Akhirnya tak ada pilihan lain bagiku selain menuruti kemauan mereka. Dokter Amin sangat ramah, seolah ia memiliki persediaan senyum yang sangat banyak hingga bebas terkembang dalam bibir tipisnya. Kami hanya mengobrol, bercerita dan bercanda tawa. Aku merasa nyaman bercerita banyak hal dengannya. Mungkin benar kata Ibu, kami memang saudara dan menjaga hubungan persaudaraan terasa sangat menyenangkan.
Gerimis ini berubah menjadi hujan. Dan Oh.. kami sudah hampir sampai rumah. Aku berlari menembus hujan, menikmati setiap tetes di tubuhku. “Mbak, ayo cepat masuk rumah”, ujar adikku.  Aku menyeringai dengan senyum lebarku. Aku menggandeng tangan adikku dan mengajaknya ikut berlari bersama tetes hujan.
 “Lisa, tiap hari kok main hujan – hujanan terus,
ayo cepat mandi. Air panasnya sudah siap “, Ibu seperti tak pernah bosan mengatakan hal itu setiap hujan turun.
“Iya ma..”, sahutku segera menyambar handuk ke kamar mandi. Aku lihat sepintas wajah Harun dan Ibu bercakap lirih. Wajah – wajah sendu yang sering muncul dalam raut wajah mereka. Kenapa dengan orang – orang? Aku masuk kamar mandi segera menghilangkan rasa dingin yang mulai merayap.
****
Di Ruang tamu rumah Harun dan Ibu duduk berhadapan.
“Ibu...”, kata Harun lirih.
“sampai kapan mbak Lisa akan terus seperti ini?
kini sudah setahun sejak kematian mas Dani..”, Harun tertunduk dalam.
“Kita sudah berupaya sekuat tenaga nak..
Tak pernah ada yang menyangka Dani mengalami kecelakaan kapal dalam perjalanannya ke Lombok. Tuhan menghendaki Dani harus pergi meninggalkan dunia ini sebelum genap setahun pernikahan Lisa.
Dokter Amin sebagai psikiater adalah jalan satu – satunya selain rumah sakit jiwa.”, suara Ibu hampir tak tenggelam dalam suara hujan.
“Harun tak tega Bu...
Harun  tak kuasa mendengar gunjingan para tetangga, ingin rasanya Harun bungkam mulut mereka semua yang tak tahu sopan santun.
Kasian mbak Lisa....
Apa memang harus begini perjalanan hidup mbak Lisa.... “, Harun tergugu. Ibu mengusap kepala Harun dengan air mata meleleh di pipinya.
Selanjutnya hanya ada suara deras hujan yang membahana ke seantero rumah.


      

Apa itu Beasiswa Ford Foundation ?


            Beasiswa sebagai penyokong kader calon cendekiawan bangsa semakin marak dari tahun ke tahun. Terlebih bagi rekan dengan kantong pas- pasan, kini bukanlah hal mustahil untuk meraih pendidikan lebih tinggi. Bayangkan saja pembiayaan yang ditawarkan oleh salah satu jenis beasiswa tak hanya biaya perkuliahan semata, namun juga berikut buku – buku dan biaya hidup selama belajar, termasuk kesehatan dan asuransi. Sangat menggiurkan bukan. Tapi tentu saja di atas segala penawaran tersebut tentu saja kita harus menjadi manusia yang berkualifikasi dan memiliki visi dan misi demi kemajuan bangsa .
Sebelum menginjak lebih jauh, ada baiknya kita mengenal beasiswa dan macam – macamnya. Beasiswa adalah pemberian berupa bantuan keuangan yang diberikan kepada perorangan yang bertujuan untuk digunakan demi keberlangsungan pendidikan yang ditempuh. Beasiswa dapat diberikan oleh lembaga pemerintah, perusahaan ataupun yayasan.[1] Beasiswa ini diberikan pada berbagai jenjang pendidikan mulai dari Sekolah Dasar (SD) hingga pendidikan paling tinggi.
Tujuan beasiswa ini adalah untuk meningkat nilai akademis dan ekonomis dari generasi bangsa yang akan berperan dalam kemajuan bangsa dan Negara di masa yang akan datang. Maka dari itu selain sisi kognitif yang ditonjolkan diperlukan pula penanaman nilai kepemimpinan, tanggung jawab dan nasionalisme. Untuk menguji karakter ini biasanya bisa dilihat dari interview, psikotes dan beberapa program beasiswa memberikan pelatihan kebangsaan pada awal tahun penerima beasiswa.
Menurut Buku Pintar Beasiswa, dari segi pendanaan, beasiswa dibagi menjadi dua kategori, yaitu beasiswa penuh dan sebagian.
Beasiswa penuh (full scholarship)
Sesuai namanya, beasiswa penuh meliputi pendanaan seluruh komponen pendidikan. Jenis beasiswa ini menanggung biaya kuliah, akomodasi, biaya hidup, asuransi, buku pelajaran, biaya penelitian, dan tiket perjalanan. Secara keseluruhan, komponen pendanaan beasiswa penuh hampir sama. Namun, ada pula penyedia beasiswa yang memberikan pendanaan bantuan bagi keluarga tanggungan penerima beasiswa.
Contoh program beasiswa penuh : Chevening, Australian Development Scholarship (ADS), dan Ford Foundation.
Beasiswa Sebagian (Partial Scholarship)
Beasiswa ini hanya menanggung biaya tertentu saja selama kamu menjalani perkuliahan. Misalnya pihak sponsor hanya menanggung biaya perkuliahan, akomodasi, dan perjalanan, sementara kamu harus menyediakan dana untuk biaya hidup. Program ini biasanya banyak ditawarkan oleh pihak universitas atau untuk program pendidikan pendek (short/summer course). Jika tetap ingin mengambil beasiswa parsial, baca kembali peraturan yang ditetapkan oleh pihak sponsor terkait izin mencari pihak sponsor lain guna menutupi biaya yang tidak ditanggung.[2]
            Nah, kini sampailah kita pada pertanyaan “Apa itu beasiswa Ford Foundation?”. Ford Foundation adalah organisasi swasta yang terbentuk di Michigan dan berpusat di Kota New York didirikan untuk mendanai program-program yang diprakarsai oleh Edsel Ford dan Henry Ford pada tahun 1936. Hibah organisasi ini diberikan melalui kantor pusat di New York dan melalui dua belas kantor perwakilan internasional lainnya. Pada tahun 2008, organisasi ini mencatat jumlah aset sebesar US$ 13,7 miliar dan menyalurkan US$ 530 juta dalam bentuk hibah untuk proyek yang berfokus pada penegakan nilai demokrasi, pengembangan komunitas dan ekonomi, pendidikan, media, seni dan budaya, serta hak asasi manusia.[3]
            Ford Foundation memperluas jaringan pemberian hibahnya dengan mendukung system penyiaran public. Seperti pada tahun 1969, organisasi ini mengucurkan dana US$ 1 juta untuk loka karya Televisi Anak – Anak yang termasuk di dalamnya bantuan peluncuran program televisi Sesame Street. Program sarat pendidikan yang masih dikenal hingga saat ini.
 Pada Era tahun 1950an Ford Foundation menyediakan serangkaian beasiswa kesenian dan kemanusiaan yang mendukung karya dari tokoh – tokoh seperti Josef Albers, James Baldwin E.E Cumnings, Flanery O’Connor, Jacob Lawrence. Maurice Valency, Robert Lowell, Margaret Mead. Beasiswa ini sebagai upaya pelestarian seni dan budaya sebagai suatu hasil dari cipta, raasa dan karsa manusia.   
            Selain itu pada tahun 1976 Organisasi ini kembali mengukuhkan niat baiknya dengan membantu peluncuran Grameen Bank yang memberikan pinjaman untuk daerah pedesaan miskin di Bangladesh. Grameen Bank ini bersama dengan pendirinya Muhammad Yunus selanjutnya dianugrahi Nobel Peace Prize  sebagai pelopor kredit mikro.
Di antara Hibah – hibah yang dikeluarkan, Ford Foundation mengemasnya dalam bentuk beasiswa yang dikenal dengan The Ford Foundation International Fellowships Program (IFP) pada tahun 2001. IFP sebagai program terbesar dari Ford Foundation memiliki misi untuk memperluas kesempatan pendidikan dan membantu perkembangan keadilan sosial di Negara berkembang.
IFP ini tersedia untuk program pascasarjana demi lahirnya pemimpin dari kalangan tersisih dan terasing yang sarat dengan kurangnya akses memperoleh pendidikan tinggi. Nantinya dengan jiwa kepemimpinan dan ilmu pengetahuan yang diperolehnya diharapkan para penerima beasiswa ini akan berperan aktif dalam pengembangan dan perbaikan kehidupan di Negara asalnya.
            Pada awal peluncurannya dengan hibah US$ 280 juta, jumlah terbesar dalam sejarah Ford Foundation.  Pada April 2006, Ford Foundation mengumumkan donasi baru sebesar US$ 75 juta untuk IFP. Dari jumlah tersebut IFP berharap akan mendukung sekitar 4300 mahasiswa setelah proses penyeleksian yang dilakukan. 
            Penerima beasiswa bisa memilih universitas manapun di seluruh dunia. Penerima beasiswa dipilih dari 22 negara dari Asia, Rusia, Afrika, Timur Tengah, dan Amerika Latin tempat lembaga menyediakan program hibah. Selain itu Beasiswa diberikan untuk berbagai bidang yang terkait sesuai dengan bidang yang diminati oleh penerima beasiswa. Menarik bukan?
            Untuk Anda yang ingin melamar sebagai penerima beasiswa perlu mengetahui negara – Negara yang menjadi daerah sasaran hibah dari Ford Foundation International Fellowship Program. Sebab salah syarat perekrutan yang ditetapkan adalah pelamar beasiswa merupakan penduduk dari teritori IFP. Yakni Negara yang dianggap sedang berkembang serta memerlukan sumber daya manusia berkualitas demi kemajuan bangsa dan Negara. Negara tersebut adalah : Brazil, Chile, China, Egypt, Ghana, Guatemala, India, Indonesia, Kenya, Mexico, Mozambique, Nigeria, Palestinian Territories, Peru, Philippines, Russia, Senegal, South Africa, Tanzania, Thailand, Uganda, and Vietnam.
            Setengah Penerima Beasiswa IFP yang terseleksi adalah wanita; banyak juga berasal dari suku, agama dan kelompok minoritas, dan sebagian besar datang dari daerah terpencil.  Para penerima beasiswa diseleksi berdasarkan catatan akademis dan potensi yang dimiliki, jiwa kepemimpinan dan komitmen sosial. Seleksi akan diadakan oleh masing – masing dewan independen di negara masing – masing.
            Di Indonesia sendiri Fourd Foundation Internationa Fellowship Program (IFP) dikelola oleh The Indonesian International Education Foundation (IIEF). Sebuah lembaga pendidikan nirlaba yang bergerak di bidang pengembangan dan pertukaran pendidikan, serta pelatihan yan bertujuan menumbuhkan rasa saling pengertian antar bangsa.
Sebagaimana disebutkan di atas penerima beasiswa dapat mendaftarkan diri ke berbagai universitas di dunia. Dan bagi mereka yang belum dapat menentukan tujuannya, IFP akan turut serta membantu mengarahkan ke bidang yang sesuai. Sebelum memulai study, penerima beasiswa akan mendapat Orientasi dan persiapan study jika perlu, seperti Kursus komputer, bahasa atau bidang lain sesuai kebutuhan.
            Persyaratan yang harus dipenuhi pelamar, yaitu
- memiliki kewarganegaraan Indonesia dan bertempat tinggal di Indonesia.
- telah menyelesaikan program studi Sarjana (S1) dengan prestasi yang sangat baik. Beasiswa IFP diperuntukkan untuk studi pascasarjana (master/doctoral).
- berperan aktif dalam masyarakat atau komunitasnya. Hal ini karena tujuan dari beasiswa ini adalah membangun masyarat dari daerah asal serta peran aktif ini akan menunjukkan jiwa kepemimpinan dari dalam dirinya.
- memiliki rencana kerja untuk menerapkan apa yang akan dipelajarinya sesuai dengan tujuan-tujuan Ford Foundation, dan
- memiliki komitmen untuk melaksanakan rencana kerja itu setelah menyelesaikan masa studinya.
Apa yang akan kita peroleh dari  beasiswa IFP? IFP mendukung study penerima beasiswa selama 3 tahun dalam menempuh pendidikan Master, Doktor, ataupun Profesional Post Graduate. Lalu sebagaimana yang telah diuraikan di atas, IFP memberikan pembiyaan penuh penerima beasiswa termaasuk biaya hidup, kesehatan dan asuransi. Selain itu IFP memberikan pelatihan yang diperlukan untuk menunjang study. Penerima beasiswa juga menerima placement assistance dan dukungan akademis selama study pascasarjana berlangsung.
IIEF menerima pendaftaran untuk beasiswa IFP sepanjang tahun. Formulir prapendaftaran yang diterima sebelum tanggal 31 Oktober akan segera diproses.
- Pelamar yang memenuhi syarat akan diberikan formulir pendaftaran lengkap untuk diisi dan dikirimkan kembali ke IIEF.
- Para finalis akan dipanggil untuk diwawancarai.
- Penerima beasiswa akan diumumkan pada akhir bulan Juni tahun berikutnya.
- Penerima beasiswa akan mulai menempuh program studinya pada tahun akademik berikutnya.
Formulir pra pendaftaran yang diterima setelah tanggal 31 Oktober akan diproses untuk periode beasiswa tahun berikutnya.
Semua berkas pendaftaran harus diserahkan ke IIEF yang kemudian diperiksa dan dinilai oleh panel seleksi nasional dan daerah yang para anggotanya terdiri dari para pakar dan praktisi di berbagai bidang akademik.
Pelamar bisa mengirimkannya atau langsung datang langsung untuk informasi lebih lanjut di “The Indonesian International Education Foundation (IIEF) Menara Imperium Lantai. 28 Suite B, Jalan H.R.Rasuna Said, Jakarta 12980 Tel.: 831-7330 pesawat 13 atau 17 Faks: (62-21) 8317331, E-mail: ifp@iief.or.id”.
Sumber :
·        http://www.scholars4dev.com/2824/ford-foundation-international-fellowships-for-developing-countries/
·        http://id.wikipedia.org/wiki/Ford_Foundation
·        http://www.kaskus.co.id/thread/000000000000000012893792/scholarship-lounge---tempat-bertanya-dan-berbagi-info-beasiswa/
·        http://fordifp.net/AboutIFP/Vision.aspx
·        http://infobeasiswas.blogspot.com/2007/02/beasiswa-s2-s3-ford-foundation.html



           
           




[1] http://id.wikipedia.org/wiki/Beasiswa
[2] http://www.kaskus.co.id/thread/000000000000000012893792/scholarship-lounge---tempat-bertanya-dan-berbagi-info-beasiswa/

[3] http://id.wikipedia.org/wiki/Ford_Foundation

Labirin Qolbu

Aku mantapkan langkah kaki menuju makam mbah Hasyim Asy’ari. Sang Hadratus Syaikh yang karismatiknya tidak pernah diragukan semasa hidupnya. Makam yang terletak di dalam kompleks Pondok Putra Pesantren Tebuireng. Dan yang kujumpai adalah peziarah yang berjibun banyaknya silih berganti memenuhi bangunan dua tingkat yang memang disediakan khusus untuk para peziarah dari berbagai penjuru nusantara. Memang pasca dimakamkannya mantan presiden ke 4 Indonesia KH. Abdurrahman Wahid atau yang lebih akrab di panggil Gus Dur disini membuat jumlah peziarah di tempat ini meningkat amat pesat terutama di akhir pekan.  Agaknya aku lupa hari ini adalah hari minggu, tapi aku sudah terlanjur ingin mencari ketenangan hati. Dalam tatih sunyi hati di antara keramaian aku melangkah menaiki tangga. Sengaja aku memilih tempat agak ujung di lantai dua agar tempat dudukku tidak terusik oleh keramaian. Hatiku tak menentu. Aku hanya ingin mengadu kepadaNYA.
Tuhan, apalah semua ini
Apalah segala hal yang ada di dunia ini
Dan apalah diriku ini
Aku harus bagaimana
            Dalam pusaran kekalutan dan kebimbangan ini aku ingin menangis. Benar – benar tangis dengan ribuan bahkan jutaan air mata namun yang ada hanyalah tangisan dalam hati, jeritan dalam sunyi, sendu yang ingin bersembunyi. Ya Rabb tolong aku.
@@@@
Aku tidak mendapatkan ketenangan disini. Yang aku dapati adalah rasa kantuk yang semakin menggelayuti kelopak mataku setiap aku membaca lembar demi lembar Al-Qur’an. Dan ketika telah rampung 1 juz, aku kembali berpikir antara melanjutkannya atau tidak. Aku jadi ingat kata – kata Isniar yang aku temui sesaat sebelum aku berada di makam ini.
“ Ustadzah selalu sendirian ya.... “
Aku hanya menjawabnya dengan senyum. Kalau dahulu aku merasa cukup meski hanya memiliki Allah dalam hatiku. Namun kini apa yang aku miliki? Setelah aku sempat memprotes, meragukan bahkan tak ingin percaya apapun. Kini aku benar – benar ringkih. Mati aku tak berani, hidup pun penuh kegamangan.
Rasa kantuk ini benar – benar ingin menaklukkanku. Dengan bantuan angin yang semilir ia berusaha merobohkanku. Suara – suara pun besahutan dalam benakku,
“ Ayo, ayo pulang saja
Apa yang kau dapat di sini
Ketenangan pun tidak
Terus mengaji pun akan menambah kantuk
Mendingan pulang saja....”
Suara – suara itu tak ada hentinya berulang seperti pemutar kaset yang sudah rusak.  Tak lama berselang  Adzan Dzuhur dari speaker masjid Pondok Putra Pesantren Tebuireng pun berkumandang seolah menjadi penguat ajakan suara yang entah darimana berasal. Aku pejamkan mata sejenak mencoba menghayati lantunan adzan ini sambil berharap aku takkan ketiduran di sini di tengah hiruk pikuk manusia yang datang silih berganti.
Dan inilah aku, gadis yang duduk seorang diri di sudut lantai dua tempat peziarah. Yang tak sibuk dengan tahlil, dzikir ataupun bacaan Quran. Hanya seorang gadis dengan pandangan menerawang kosong ditemani dengan buku diary beserta pulpen di sampingnya. Sibuk dengan pertanyaan apa, siapa, dan mengapa yang tak pernah tuntas terjawab. Mencoba menguak yang tak pernah terungkap oleh hati. Ditemani juga oleh lebah yang tak kunjung pergi meski berkali – kali aku usir, namun ia tak menyengat. Mungkin memang Allah mengirimkannya untuk menemaniku. Pikiranku tak tentu arah. Semua akhirnya berujung pada sebuah pertanyaan,
BAGAIMANA.
Tuhan, aku harus bagaimana?


Aku jadi ingat kata – kata Abah,
“ Jangan kebanyakan “piye “ ( bagaimana ) dalam menjalani hidup
Buang kata itu
Karna itu hanya akan melemahkan iman
Kita masih memiliki Allah
Kenapa mesti bingung – bingung ... ? “

Ahh... memang Abah benar, tapi aku memang masih belum bisa menemukan langkahku. Lantunan dzikir di tempat ini masih terus menggema.
Astaghfirullahal ‘adzim
Astaghfirullahal ‘adzim
Astaghfirullahal ‘adzim
           
Shollallah ala Muhammad  
Shollallah ala Muhammad
Shollallah ala Muhammad

Laa ilaha illallah hayyul maujud
Laa ilaha illallah hayyul ma’bud
Laa ilaha illallah hayyul baaq
Laa ilaha illallah, Laa ilaha illallah, Laa ilaha illallah, Laa ilaha illallah, Laa ilaha illallah, Laa ilaha illallah, Laa ilaha illallah, Laa ilaha illallah, Laa ilaha illallah, Laa ilaha illallah, Laa ilaha illallah, Laa ilaha illallah, Laa ilaha illallah, Laa ilaha illallah, Laa ilaha illallah, Laa ilaha illallah, Laa ilaha illallah, Laa ilaha illallah, Laa ilaha illallah, Laa ilaha illallah, Laa ilaha illallah, Laa ilaha illallah.
Tanpa sadar hatiku ikut berdzikir. Dan aku pun mengamini doa rombongan peziaroh tak jauh dari tempatku duduk.
“Membaca al fatikhah,
Ketika sampai pada ayat Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in
Baca 11 kali seraya mengucapkan hajatnya dalam hati”,
Begitu ujar pemimpin rombongan ziaroh tersebut. Aku tak urung ikut berdoa dalam hati. Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.  Aku mantapkan hal itu dalam hatiku.   
Ya Robb..
Segala makhluk mengharapkanMU
Semua ciptaanMU memohon pertolonganMU
Meminta perlindunganMU

Aku putuskan untuk membaca Al Quran sejenak sebelum kakiku benar – benar melangkah pergi dari sini.
@@@@

To be continue. . . .

Tebuireng, 10052013
Nadine_Husein


Bersama Gerimis

Aku menunggumu.
Di persimpangan jalan itu
Menunggu janjimu
Menanti senyummu

Namun hanya angin yang setia menemaniku
Hingga senja pun mulai mnghilang
Kau tak pernah muncul

Aku masih di sini
Berharap angin akan menyampaikan gundahku
Berharap angin akan membisikkan salam darimu
Namun yang ada hanya hening

Kau dimana
Aku mulai merintih pada angin
Jarum detik,menit dan jam berkejar-kejaran
Hingga jarum paling pendek berhenti di angka sembilan

Aku mulai menangis
Sedu sedan
Gundah gulana
Benar - benar tangis

Ini aku
Aku yang pernah menyakitimu
Gadis yang pernah menyia-nyiakanmu
Peri hati yang meninggalkanmu
Namun rasa sayangmu masih ada untukku

Maaf jika Aku tak tahu diri
Kumohon datanglah
Hanya sekali ini 
Untuk terakhir kalinya

Rintik gerimis masih menemaniku.
Dan waktu pun tetap berlalu.

11032013
Tebuireng_ Nadine Husein


Manfaat belajar Ushul Fiqh

    Sedikit berbincang dengan Gus Birin (panggilan Gus M.Shobirin) malam hari ini lebih mendorong kami untuk men-konstektual-kan pemikiran kepesantrenan kami dengan persoalan kehidupan modern yang semakin beraneka ragam dan membutuhkan hukum di dalamnya. begitupun bagaimana agar kita tetap berbaur ( dalam arti tidak tersisih ) namun tetap berpegang teguh dengan kereligiusan kita.
   Begitupun ketika berkecimpung dalam dunia pendidikan (kebetulan jurusan saya Pendidikan Agama Islam). Kita nantinya harus menjelaskan arti dari Agama Islam itu sendiri. Apakah Agama Islam adalah Fiqh? Syariat dan fiqh sama ? Karena definisi agama belum pernah mendapat kata sepakat dari seluruh pemuka agama di dunia. tak ada yang pernah benar - benar bisa mendefinisikannya.(Mungkin Pembaca ada yang bisa memberi jawaban ^^).
   Lalu sampailah pada penjabaran antara ulama, nushus, qodhoya, dan ushul fiqh. sebuah segitiga yang saling terkait sementara ushul fiqh berada di titik tengah segitiga tersebut.Ushul fiqh merupakan metode yang dipergunakan ulama dalam memperoleh suatu hukum.Apakah dengan belajar ushul fiqh lantas kita akan bisa menjadi seorang mujtahid? lalu jika tak bisa untuk apa kita belajar ushul fiqh?
berikut keterangan dari Gus Birin.
  
Manfaat belajar Ushul Fiqh dapat ditinjau dari beberapa segi :
 
1. Segi Sosiologis
     Dengan ilmu esensial yang kita dapat dari belajar Ushul fiqh,kita menjadi lebih menerima dengan adanya perbedaan karena kita telah mengetahuisebab musabab serta dasar pemikiran yang digunakan oleh suatu pihak hingga memunculkan perbedaan tersebut. takkan ada lagi permusuhan membabi buta sebab fanatisme yang berlebihan.
2. Segi Akademis
    Dengan mempelajari ushul fiqh, kita akan mengetahui dasar pemikiran dari madzab yang kita anut sehingga akan memperkuat keyakinan dalam menjalani syariat dalam suatu madzhab.
3. Segi Psikologis
    Ushul Fiqh membuka cara pandang akan kehidupan sehingga seseorang akan menjadi lebih bijak dalam menyikapi suatu persoalan.Mengapa demikian ? Karena ia  akan melihat persoalan tersebut dari berbagai sisi. Hal ini berbeda dengan orang yang cara pandang hidupnya secara fiqh, umumnya orang - orang semacam ini cenderung fanatik dan berlebihan dalam menghadapi persoalan. 
   
   Lebih lanjut Gus Birin berpesan untuk tidak berpuas diri dalam satu bidang keilmuan. Perkaya diri dengan berbagai ilmu dan sering share ilmu dengan orang lain dari bidang lain pula.
   Yuk, belajar, belajar dan belajar :)

Yogyakarta, 2 September 2014
Nadine_Husein



Ainun Qolby


Al Hikam ( Ibnu Athoilah )

ثم قال ( الحق ) تعالى ( ليس بمحجوب ) أي ليس حجاب وصفاله سبحاله ( وإنما المحجوب ) أي متصف بالحجاب ( أنت ) بصفاتك النفسانية ( عن النظرائية ) فان اردت الوصول إليه والدخول في حضرته فابحث عن عيوب نفسك وعالجها تصل إليه وتشاهده ببصيرتك ثم استدلّ على نفي الحجاب عن الرب.
        
Allah Ta’ala, dzat yang tetap sifat kesempurnaannya.  Ketika Allah memiliki sifat Ar Rahman, Ar Rahiim, al Hakiim dll ( dalam Asmaul Husna ), sifat tersebut tidak akan berubah. Berbeda dengan manusia ( makhluk ) seiring berjalannya waktu sifat yang dimiliki manusia bisa berubah. Seseorang yang kurus bisa berubah menjadi gendut.  Begitupun sifat seseorang yang asalnya kalem, halus tutur kata bisa saja berubah dalam hitungan detik sebab dipukul misalnya.
            Tak ada yang menutup sifat Allah. Sementara sifat manusia bisa tertutup oleh nafsu. Tetapi ainun qolbi  ( mata hati ) jika diberi kesempatan oleh Allah untuk melihat yang lain ( makrifat ). Setiap mata hati hakikatnya bisa melihat orang lain namun sebagian besar hati manusia tertutup oleh nafsu.
            Dikisahkan ada seorang kyai yang bisa mengetahui apa yang akan terjadi pada orang lain dan memang benar – benar terjadi. Sampai suatu ketika kyai ini bermimpi disuruh uzlah berguru pada waliyullah di negeri seberang. Maka berangkatlah sang kyai dan bertemu dengan waliyullah. Ketika berhadapan langsung kyai tersebut melihat tulisan An Naar ( neraka ) di dahi waliyullah. Sang Kyai tertegun, bagaimana bisa waliyullah tertulis neraka di dahinya.
            Selidik punya selidik setiap waliyullah sering keluar berjalan – berjalan. Maka kyai pun mengikutinya dan didapati waliyullah masuk ke warung yang sangat ramai. Waliyullah bukan tak  mengetahui ia dibuntuti bahkan waliyullah memanggil dan mengajak Kyai makan bersama. Setelah itu Waliyullah berjalan kembali tak urung Sang Kyai kembali membuntutinya hingga sampailah pada sebuah sungai. Disitulah kemudian Waliyullah bukannya berenang tapi berjalan di atas sungai.
            Selanjutnya Waliyullah memanggil sang kyai mendekat. Kyai pun berenang mendekati waliyullah. Waliyullah pun berujar, “ Apapun yang kau lihat belum tentu benar, maka lihatlah dan mintalah petunjuk kepada Allah “. Jika engkau dikaruniai ngerti  oleh Allah maka kamu tidak diperbolehkan untuk menyampaikan apa yang dilihat. Tapi diharuskan melihat dengan nur Allah tetaplah untuk meminta petunjuk Allah. Karena ilmu Allah tidak ada penutup sedangkan ilmu manusia bisa tertutup nafsu.
            Meskipun kamu pergi ke seberang lautan untuk uzlah di tempat yang jauh jika hatimu tidak ditata maka takkan bisa tercapai maksudmu. Nafsu adalah keinginan – keinginanmu yang tidak sesuai. Semakin tebal keinginanmu tersebut semakin tebal penghalangmu dengan Allah. Jika hatimu ingin wushul (sampai) kepada Allah maka kamu harus mencari ampun pada Allah atas segala kesalahan. Mengingat – ingat apa yang menjadi kesalahan dan kecacatan pada dirinya dalam upaya menjaga nafsu.
            Beristigfar setiap terasa ada sifat sombong, iri. Juga memohon ampun karena telah menyia – nyiakan waktu. Bahkan ikan – ikan pun membaca istighfar. Menangislah karena Allah yang menjadi jalan untuk segala permasalahanmu. Ketika kamu bisa wushul maka itu akan menjadi jalan menjadi kekasih Allah. Dan dari situlah kamu dapat mlihat dengan mata hati.
            Alkisah Kyai tadi tidak mau memberi tahu apa – apa yang dilihatnya lagi. Tampaknya Kyai tak ingin lagi tertipu oleh nafsu. Ketika ditanya oleh seseorang tentang keberatan kyai menyampaikan lagi apa yang diketahuinya kini, Kyai menjawab, “aku takut pada Allah, karena apa yang belum terjadi adalah hak Allah. Bukan hakmu ataupun hakku. Apa yang menjadi hakmu adalah apa yang terjadi sekarang, maka kamu tidak boleh mengetahui apa yang belum terjadi karena itu adalah hak Allah. Maka kamu harus bisa menemukan hatimu kepada Allah. Menempatkan dirimu di hadapan Allah melalui penglihatan hatimu.”
                 
Yogyakarta, 26082014
Pondok Pesantren Darul Ulum wal Hikam (DAWAM)
Pengajian dibawah asuhan Kyai Sugeng Utomo


NB : apabila terdapat kesalahan dan kekurangan semata - mata berasal dari Penulis